Tuesday, March 31, 2009

PANDANGAN FILSAFAT DALAM PENDIDlKAN

A. PENDAHULUAN

Menurut Elias & Sharan Merriam (1984: 1) telaah tentang cikal-bakal akar perkembangan filsafat dimulai dart filsafat klasik yang didominasi oleh filsuf-¬fitsuf Yunani. Meskipun demikian, pelibatan pemikiran kefilsafatan dalam bidang kependidikan baru dimulai pada abad ke-19, yaitu dipelopori oleh Immanuel Kant dan Hegel. Lebih dari itu, filsafat pendidikan baru dipandang sebagai suatu disiplin keilmuan yang terpisah dari filsafat pada abad ke-20 dipelopori oleh John Dewey.

Berdasarkan permasalahan tersebut, dalam makalah singkat ini dibahas:

1. Apa pandangan klasik tentang manusia sebagai homo educandu ?
2. Apa pemikiran tentang Dewey berkaitan dengan pandangan filsafat dalam pendidikan?
3. Bagaiman kedudukan filsafat dalam pandangan-praktis kependidikan misalnya dalam perencanaan kurikulum kependidikan?

B. PANDANGAN FILSAFAT DALAM PENDIDIKAN

1. Pandangan Kefilsafatan Klasik terhadap Hakikat Pendidikan bagi Manusia
Dalam pandangan kefilsafatan klasik, manusia memiliki serangkaian predikat, misalnya manusia sebagai homo ethicus, homo sapiens, homo aesthethicus. homo symbolicum, dan sebagainya. Salah satu predikat manusia adalah sebagai homo educandum, yaitu makhluk pendidikan.

Pengertian homo educandum menyiratkan adanya tiga subpredikat lainnya, yaitu horno educandee also mahkluk terdidik, homo educabile atau makhluk yang dapat dididik, dan homo educandum atau makhluk pendidikan. Oleh sebab itu, pendidikan bagi manusia adalah usaha dalam rangka memanusiakan manusia dan memanusiawikan manusia.
2. Peranan Pemikiran Kefilsafatan bagi Pendidikan
Menurut Tyler (1949: 1) setiap program pendidikan hendaknya memiliki rumusan tujuan yang jelas. Untuk merumuskan tujuan pendidikan, ada empat sumber pemikiran yaitu: (1) filsafat kependidikan yang komprehensif, (2) para spesialis bidang keilmuan yang relevan, (3) psikolog, dan (4) sosiolog.
Lebih lanjut, Tyler (1949) menyatakan bahwa dalam merancang rumusan tujuan pendidikan, pemikiran filsafat kependidikan berada pada posisi terdepan, pada first screen. Pada lapis berikutnya adalah pemikiran dari para spesialis bidang keilmuan. Sistematika yang lazim dikembangkan dalam perumusan tujuan: (1) filsafat umum dan sosial menggarisbawahi apa tujuan pendidikan yang pada umumnya dikaitkan dengan penyiapan anak didik sebagai anggota masyarakat yang ideal, (2) filsafat pendidikan menggarisbawahi apa-apa yang seharusnya dirumuskan sebagai tujuan pendidikan, (3) lembaga terkait hingga ke jajaran sekolah dan komite mengembangkan rumusan tujuan tersebut.

Pada umumnva, nilai-nilai yang akan dituju dan relevan dengan kenyataan masyarakat di luar sekolah adalah: (1) pengembangan kesadaran terhadap tentang pentingnya setiap individu sebagai manusia yang tidak saja terikat oleh status suku, bangsa, sosial, dan ekonomi, (2) lebih mengembangkan kemungkinan individu untuk berpartisipasi dalam masyarakat, (3) lebih mengembangkan keberagaman dibandingkan dengan terpaku pada satu sosok kepribadian, dan (4) lebih mementingkan kemampuan individu dalam pemecahan masalah dibandingkan atas dasar otoritas suatu kelompok otokratis maupun aristokratis.
3. Perubahan Aliran Filsafat dan Dampaknya terhadap Pandangan Kependidikan
Dalam pandangan pragmatisme Dewey, segala sesuatu di dunia ini mengalami perubahan. Yang tetap hanya satu hal, yaitu perubahan itu sendiri. Perubahan, termasuk aliran kefilsafatan, juga berdampak terhadap perubahsan pandangan kependidikan_
Menurut Fagerlind dan Lawrence J. Saha {1996_ 26-27) secara teoretis ada empat model sikap manusia terhadap perubahan. Keempat model itu adalah (1) Teori Siklus Mask, (2) Teori Agustine, (3) Teori Linear, dan (4) Teori Siklus¬Linear.

Teori Siklus Klasik dirumuskan sesuai dengan kecenderungan masyarakat mitis bahwa dunia ini bangkit dari suatu keadaan, berkembang, mencapai puncak, menurun, dan akhirnya musnah. Saat awal adalah awal peradaban manusia, puncak adalah modernisme peradaban manusia, dan titik akhir adalah dunia kiamat. Dalam menyikapi perubahan tersebut, mausia cenderung pasrah.
Teori Agustine dirumuskan sesuai dengan pandangan Kristiani klasik bahwa dunia berubah sesuai dengan siklus-siklus yang berkelanjutan dari kebangkitan, mencapaii puncak, dan kembali ke kehancuran. Teori ini juga dikenal dengan teori kepasrahan-diri. Manusia dipandang bukan sebagai pelaku, tetapi sebagai objek perubahan.

Teori Linear dimmuskan sesuai dengan pandangan radikal-liberal dan op¬timistis bahwa dunia berkembang terus mencapai suatu puncak kejayaan yang merupakan utopi setiap manusia. Manusia dipandang sebagi penentu perubahan, siapa yang tidak terlibat dalam perubahan tersebut akan tergilas.
Teori Siklus Limear dirumuskan sesuai dengan pandangan humanisme mo¬deren bahwa perubahan itu berlangsung terus menuju suatu masa kejayaan, namun setiap perubahan tidak selalu berawal dari kekosongan, tidak bersifat radikal. Per¬ubahan cenderung linenr namun memberikan jejak jejak spiral karena ada hal-hal yang berulang pada masa sebelumnya meski pengulangan itu tidak persis sama dengan kondisi masa sebelumnya. Dengan kata lain, perubahan bersifat maju ber¬kelanjutan.

a. Esensialisme
Kaum esensialis memandang bahwa pendidikan hendaknya hanya mengembangkan hal-hal yang esensial saja bagi siswa. Hal-hal esensial tersebut tentu tergantung pada beberapa hal pokok, di antaranya ideologi-politik dan sosiologis.
Kritik terhadap pandangan kaum esensialis pun berkembang. Di antaranya kritik terhadap adanya kenyataan bahwa: (1) hal-hal yang esensial itu bersifat relatif, (2) haI-hal yang esensial itu cenderung dipandang esensial oleh sekelompok orang (dewasa) tapi belum tentu esensial dalam pandangan siswa, dan (3) dalam kenyatam masyarakat di luar sekolah orang-orang mampu melakukan hal-hal yang bukan hal-hal esensial yang diajarkan di sekolah.

b. Perenialisme
Di negara Barat, perenialisme merupakan filsafat pendidikan tertua dan paling bertahan lama. Alirann ini dikenal dengan berbagai nama seperti humanisme klasik (classical humanism), humanisme rational (rational humanism), pendidikan liberal (liberal education), atau pendidikan umum (general education). Aliran iini berkembang pada tahun 1450-1850 di Eropa oleh tokoh-¬tokoh seperti Erasmus, Thomas More, dan Ignatius Loyola.
Dalam pandangan kaum perenialis, pendidikan hendaknya diarahkan untuk menghasilkan pemikir-pemikir tangguh, manusia berbudaya, serta mampu memenuhi tuntutan dalam dunia baru dikaitkan dengan perkembangan komersial dan tata peradilan. Pendidikan liberal ini sangat mementingkan pendidikan rasional atau intelektual. Pendidikan tentang kebijaksanaan (wisdom) memang diberikan tetapi wisdom dimaknai: (l) secara praktis adalah kemampuan untuk mengaplikasikan informasi dan pengetahuan dalam aktivitas kehidupan sehari¬-hari, dan (2) secara teoretis adalah suatu kontemplasi tentang pemikiran terdalam prinsip-prinsip subjek pemikiran dan penyusunan kembali hubungan serta keterkaitannya dengan bidang lain. Dengan kata lain, secara teoretis wisdom adalah pencarian kebenaran tentang situasi manusia dan dunia. Tidak mengherankamz pengaruh pemikiran perenialis terhadap pendidikan memicu kolonialisme, kapitalisme, dan homo homini lopus (manusia itu srigala bagi sesamanya, Thomas Hobbes). Bahkan dalam pandangan berikutnya untuk mengatasi kebuasan manusia, dalam Leviathan, dinyatakan bahwa kekuasaan negara hendaknya bersifat absolut.

c. Rekonstruksionisme
Rekongruksionisme adalah aliran filsafat pendidikan yang mengembang¬kan pradigma bahwa pendidikan pada dasamya dikembangkan untuk mem¬perbaiki masyarakat. Lembaga pendidikan merupakan ajang penyiapan individu agar mampu berperan serta aktif dan mengambil bagian dalam memperbaiki masyarakat. Oleh sebab itu, pendidikan hendaknya bersifat memiliki tujuan yang jelas (ends-means) dan dalam perumusan tujuan tersebut aspek kehidupan masyarakat di luar sekolah merupakan salah satu acuan. Da1am bidang kurikulum, Ralph W Tyler dan Hilda Taba merupakan contoh tokoh yang menganut pandangan rekonstruksionisme (Nunan. 1988: 16).
Unsur-unsur kehidupan nyata yang lazim dipertimbangkan dalam perumusan tujuan kependidikan sekolah adalah: (1) kesehatan, (2) keluarga, (3) rekreasi, (4) keterampilan vokasional, (5) agama, (6) konsumsi, dan (7) kewarganegaraan. Virginia State Curriculum (Tyler, 1949: 20) mengindikasikan 12 topik kehidupan nyata yang Iazim dipertimbangkan dalam perumusan tujuan kependidikan sekolah, yaitu: (1) perlidungan dan pelestarian kehidupan, (2) sumber-sumber daya alam, (3) produksi kebutuhan pokok, pelayanan, dan distribusi, (4) konsumi materi dan pelayanan, (5) komunikasi dan transportasi materi dan manusia, (6) rekreasi, (7) kebutuhan ekspresi estetis, (8) kebutuhan ekspresi religius, (9) pendidikan, (10) pemekaran kebebasan, (11) integrasi individual, dan (12) eksplorasi.
Kritik terhadap pandangan sekonstruksionisme pun berkembang. Salah satu kritik tajam terhadap penganjur rekonstruksionisme adalah tudingan bahwa kaum reskonstruksionis terlalu menekankan kepada hasil (product) dan cenderung mengabaikan proses. Seharusnya, sejalan dengan perkembangan spesifikasi dan spesialisasi keahlian dalam kehidupan nyata, hendaknya aspek proses, terutama metodologi pembelajaran, hendaknya diperhatikan secara proporsional, sebanding dengan perhatian terhadap aspek hasil.

d. Progresivisme
Aliran progresif atau progrevisme berkembang sejalan dengan pergerakan progresif di bidang politik, perubahan sosial, dan pendidikan. Aliran ini lebih menekankan pada keterkaitan antara pendidikan dengan masyarakat, pendidikan yang berpusat pada pengalaman, pendidikan vokasional, dan pendidikan demokratis. Tokoh-tokoh yang dikenal sebagai penganjur progresivisme adalah William James, John Dewey, dan William Kilpatrick.
Menurut Russel (2004: 1066) John Dewey lahir pada tahun 1859 dan sama halnya dengan William James, Dewey berasal dari New England (AS). Pada tahun 1899, Dewey menulis buku The School and Society. Dewey menentang konsep kebenaran sebagai sesuatu yang final. Menurut Dewey, pengkajian tentang kebenaran itu hendaknya lebih dikaitkan dengan proses evolusioner dalam pemikiran manusia. Oleh sebab itu- kebenaran yang objektif akan dapat ditemukan melalui penyelidikan. Dewey mengembangkan pemikiran induktif dalam konteks metode ilmiah.
Dewey juga terlibat aktif pada setiap perkambangan progresivisme. Menurut Elias & Sharan Merriam (1984: 49-50) sebenarnya aliran progreif ini berkembang dalam tiga tahap.
Pada tahan pertama, aliran progresif lebih menekankan pada pengembangan pendekatan yang berpusat pada anak dalam dunia pendidikan. Hal itu terlihat dalam buku School and Society dan The School of Tomorrow. Pandangannya sejalan dengan J.J Rousseau, Pestalozzi dan Froebel. Tokoh¬ tokoh ini berpandangan bahwa tugas utama sekolah adalah mengembangkan potensi anak, dan secara khusus dirumuskan. "memfasilitasi dan memperkaya pertumbuhan individual anak".
Pada tahap kedua, Dewey lebih menekankan bahwa sekolah hendaknya berperan dalam reformasi sosial dan rekonstruksi sosial (identik dengan rekonstruksionisme). Pandangan Dewey tercermin dalam bukunya yang berjudul Democracy and Education. Dalam cakupan yang lebih luas, sekolah hendaknya memiliki peran utama bagi pengembangan demokrasi, sains, evolusi, dan industrialisme. Secara tajam, Dewey mengatakan bahwa pendidikan akan berkembang mulus jika berlangsang di tempat yang demokratis dan demokrasi akan berkembang jika ada pendidikan yang benar (sejati).
Pada fase ketiga Dewey kembali menekankan perlunya pengalaman. Pada tahun 1938 Dewey menulis buku Experience and Education Dalam buku ini, Dewey mengecam pendidikan yang berpusat kepada mata pelajaran (subject¬centered) atau pendidikan tradisional maupun pendidikan yang progresif dan terpusat pada anak. Ungkapan learning by doing (juga dinyatakan Jerome Brunner learning by experiencing) menggambarkan ide Dewey tentang perlunya pengalaman dalam pembelajaran. Dalam kaitannya dengan peran serta masyarakat, Dewey menganjurkan, "The methods of critisism, full public inspection, and testing became the moral principles to guide educational work".
4. Pandangan Ontologis, Epistemologis, dan Aksilogis dalam Pendidikan
Berdasarkan uraian di atas, sebenarnya sudah tergambar secata tersirat pandangan ontoiogis, epistemologis, dan, aksiologis dalam pendidikan. Aliran filsafat tertentu yang ditempatkan sebagai pioneer pengembangan kependidikan memberikan sumbangan ontologis terhadap pendidikan, yaitu dalam perumusan landasan, tujuan, sekaligus mengisyaratkan apa subject matter yang akan dicapai dan kembangkan oleh lembaga kependidikan.
Sumbangan epistemologis terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengembangan aspek metodologi pembelajaran. Aspek metodologis terkait dengan apa pendekatan, strategi, metode, dan teknik pembelajaran yang digunakan sesuai dengan karakteristik tuiuan yang telah digariskan (aspek ontologis) dan karakteristik materi atau subject matter yang telah ditetapkan. .
Sumbangan aksiologis terkait dengan anutan dan acuan nilai-nilai yang dituju atau diharapkan dicapal sesuai dengan pengalaman pembelajaran (learning experiences) (aspek epistemologis) dalam rangka pencapaian tujuan yang telah digariskan (aspek ontologi.r).Pandangan aksiologis juga bukan hanya dikaitkan dengan pencapaian tujuan dan metode pengembangan pengalaman pembelajaran, tetapi juga dikaitkan dengan aspek manajerial lembaga pendidikan.
Meskipun demikian, rumusan-rumusan kefilsafatan yang bermuatan konsep ontologis, episetmologis, dan aksiologis sangat bergantung pada penentu kebijakan, pelaksana, dan pihak-pihak terkait dalam bidang kependidikan. Pengalaman menunjukkan, misalnya berkaitan dengan pemberlakuan kurikulum dan pendekatan pembelajaran yang sarat dengan muatan filosofis dan psikologis seperti pendekatan CBSA (Kurikulum 1975), Keterampilan Proses (Kurikulum 1984), Pendekatan Komunikatif (Kurikulum 1994), dan Pendekatan Kontekstual (Kurikulum 2004), ternyata ketika diterapkan di Indonesia cenderung banyak mengandung dan mengundang pendangkaian. Merujuk pendapat Prayitno (1984: 5-6). jika Arti yang Diberikan dari Luar (ADL) ternyata tidak sejalan, timpang, bahkan bertentangan dengan Arti Dari Dalam (ADD), maka akan terjadi kesalahartian dengan berbagai akibatnya. Kenyataan empiris menunjukkan bahwa ketimpangan ADL dengan ADD berkaitan dengan penerapan berbagai pendekatan mengakibatkan ketercapaian tujuan pendidikan semakin kabur_

C. KESIMPULAN
Uraian dalam makalah singkat ini menggambarkan bahwa dalam pandangan kefilsafatan manusia memang memerlukan pendidikan. Filsafat pendidikan memberikan sumbangan, terutama dalam perumusan tujuan pendidikan. Meskipun demikian, jika dirunut lebih jauh, filsafat pendidikan juga memberikan sumbangan terhadap pendidikan, baik dalam hal perumusan tujuan, perencanaan dan pengembangan proses pembelajaran hingga pelaksanaan evaluasi dan pemberian umpan balik. Di samping itu, aliran kefilsafatan pendidikan juga mempengaruhi corak sumbangsih filsafat pendidikan terhadap pendidikan, baik yang bersifat ontologis, epistemologis, maupun aksiologis

DAFTAR PUSTAKA
,
Elias, John L & Sharan Merriam. 1,984. Philosophical Foundations of Adult Education. Florida: Robert E. Krieger Publishing Company.

Fagertind, Ingemar & Lawrence J Saha. 1996. Education and National Development: A Comparative Perspective. Toronto: Pergamon Press.

Nunan, David. 1988. The Learner-Centred Curriculum. Cambridge: Cambridge
University Press.
Prayitno. 1984. "Gatra dalam Pendidikan dan Bimbingan". (Pidato Itmiah pada Kegiatan Dies Natalis ke-XXX, 31 Agustus 1984). Padang: IKIP Padang.


Russell, Bertrand. 2004. Sejarah Filsafat Barat: Kaitannya dengan Kondisi Sosio¬Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang. (Diterjemahkan oleh Sigit Jatmiko, dkk)_ Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset_

Tylor, Ralph W. 1949. Basic Principles of Curriculum and Instruction. Chicago: The Chicago Press

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites